Cara Mengatasi Keracunan Obat

Cara Mengatasi Keracunan Obat. Setiap keracunan akut bahan kimia obat yang dapat atau diperkirakan dapat menimbulkan kerusakan pada salah satu or­gan tubuh atau lebih (penurunan kesadaran, kerusakan esofagus, ganggguan ginjal, dan lain-lain). Bila terdapat keragu-raguan mengenai dosis obat yang termi­num, dapat dilakukan observasi sampai dengan 24 jam di ruangan. 
cara mengatasi keracunan obat

PENATALAKSANAAN


A. UMUM


Resusitasi (ABC)

- A (airway= jalan napas), usahakan jalan napas tetap terbuka, bebas dari sumbatan bahan muntahan, darah, lendir, pang­kal lidah, gigi palsu dan lain-lain, kalau perlu gunakan oropharyngeal airway, dan aspirator (suction).

- B (breathing= pernapasan), usahakan agar penderita dapat dan terus bernapas dcngan baik, bila perlu dengan ban­tuan Ambubag, respirator, atau pernapasan dari mulut ke mulut (mouth-to-mouth breathing)

- C (circulation= peredaran darah) pertahankan agar tensi dan nadi penderita tetap terjaga baik, bilamana perlu segera pasang infus Dextrose 5%, PZ atau RL; bila hipotensi tetap bertahan, dapat ditambahkan cairan koloid (Haemaccel).
Eliminasi

a. Emesis, merangsang penderita supaya muntah pada penderita yang masih sadar

b. Katarsis, dengan pemberian laksans MgS04, bila diduga racun telah sampai di usus halus/ tebal.

c. Kumbah lambung (KL) pada penderita yang kesadarannya mulai menurun atau tidak kooperatif.

KL dilakukan dengan NG tube atau pipa

Ewald; jangan lupa menyebutkan jumlah air yang dipakai untuk KL.

d. Diuresis paksa (forced diuresis= FD), pada dugaan racun telah berada dalam darah dan dapat dikeluarkan melalui gin­jal; diuresis paksa ada 2 macam

- diuresis paksa alkali (FDA) dan

- diuresis paksa netral (FDN)

e. Dialisis (hemo/peritoneal dialisis), terutama pada keracunan bahan-bahan yang dapat didialisis


Emesis, katarsis dan KL tidak boleh dikerjakan bila

- keracunan lebih dari 6 jam

- pada keracunan bahan korosif

- keracunan minyak tanah/ bensin

- pada koma derajat sedang sampai berat (Tk.III-IV).

Pada dua yang terakhir ini, KL dapat dikerjakan dengan bantuan pipa endotrakheal berbalon.
"Supportive"

Dikerjakan dengan memperhitungkan keseimbangan cairan, elektrolit, asam basa, dan kalori


Antidotum

Baru diberikan bila ini ada (atropin sulfat untuk keracunan insektisida fosfat organik, atau nalorphine untuk keracunan morphine)

B. KHUSUS

a. Keracunan Insektisida fosfat organik (IFO)

1. Infus Dextrose 5 %, hisap lendir, oksigenisasi yang baik

2. Sulfas atropin 2,5 mg bolus intravena, diteruskan 0,5 - 1 mg setiap 5-10-15 menit tergantung beratnya keracunan.

3. KL seefektif mungkin, katarsis, keramas rambut dengan sabun, juga mandikan seluruh tubuh dengan sabun, ganti pakaian baru yang bersih.

4. SA. diberikan secara intravena dengan monitor pupil penderita sampai tercapai atropinisasi, yaitu: mulut kering, muka merah, pupil dilatasi, jantung ber­debar-debar, tubuh meningkat, pendenta gelisah, mirip psikosis

5. Setelah atropinisasi, SA dijarangkan untuk dosis pemeliharaan (maintenance): 0,5 - 1 mg setiap 1-2-4 atau 6 jam tergantung bentuk dan refleksi pupil penderita

6. Pembenan SA dihentikan minimal setelah 2 x 24 jam

7. Jangan lupa konsultasi dengan Psikiater sebelum memulangkan penderita



b. Keracunan sedativa-hipnotika. analgetika

1. Penderita sadar : emesis, pemberian norit dan laksans MgSO4.

Kalau pasti dosis rendah, dapat langsung pulang, bila ragu­-ragu observasi selama 6-24 jam

2. Koma derajat II-II : KL dengan NG tube tanpa endotrakheal kemudian diuresis paksa selama 12 jam bila ada keragu-raguan tentang penyebab keracunan. Caranya:

- berikan 1 ampul Kalsium glukonas intravena

- infus Dextrose 5% + 10 mL KCl 15 % (untuk setiap 500 mL), diberikan dengan kecepatan 3 liter dalam 12 jam.

- furosemide 1 ampul (40 mg) IV setiap 6 jam

- untuk keracunan salisilat dan femobital, dapat ditambahkan 10 mEq Na-bikarbonat untuk setiap 500 ml D-5% (= 1/4 am­pul Meylon) ├ádiuresis paksa alkali. Bila perlu diuresis paksa dapat diulang setiap 12 jam penderita sadar.

3. Koma derajat III-IV. KL dengan pipa endotrakheal berbalon, selanjutnya diuresis paksa netral alkali, atau dialisis, tergan­tung jenis serta dosis obat yang diminum penderita

4. Bila koma berlangsung dalam jangka lama, lakukan terapi "supportive" untuk mempertahankan alat-alat vital tubuh, se­mentara menunggu eliminasi seluruh obat, hasil metabolik, mau­pun efeknya dari tubuh penderita.

5. Bila timbul gejala-gejala ekstrapiramidal (akibat largactyl, stemetil, plasil dsb) dapat diberikan difenhidramin (Delladryl) 50 - 100 mg intravena.

6. Pada penderita yang gelisah/ konvulsi, dapat diberi Diazepam 5-10 mg atau Fenobarbital 50-100 mg intravena).



c. Keracunan Peptisida lain (DDT, endrin, racun tikus, dll)

1. Infus Dextrose 5%, 02 kalau perlu

2. Emesis, Katarsis, KL bila penderita sadar atau sedikit apati (somnolens)

3. Diazepam 5-10 mg bila penderita gelisah/ konvulsi

4. Terapi "supportive" sampai efek racun menghilang

5. Furosemida 40 mg IV bila terdapat tanda-tanda penurunan diuresis (terutama pada keracunan fosfid/ racun tikus )



d. Keracunan bahan korosif (air acu, asam keras, soda kaustik)

1. Jangan lakukan emesis, katarsis maupun KL.

2. Segera penderita disuruh minum air/susu sebanyak mungkin untuk mengencerkan bahan tersebut.

3. Pengenceran terus dilakukan walaupun penderita muntah-muntah.

4. Infus Dextrose 5 %, kalau perlu dengan cairan koloid atau transfusi darah bila terdapat tanda-tanda perdarahan (hemate­mesis melena) atau penderita syok/ pre-syok.

5. tindakan selanjutnya tergantung bahan yang diminum, bila

- asam kuat (H2S04, HCl) berikan susu tiap 1- 2 jam sebanyak 100 – 200 mL sampai secukupnya

- basa kuat (KOH, NaOH) dengan air buah atau HCl encer: (Yulapium) sebanyak kira-kira 2 liter untuk setiap 30 gram al­kali yang diminum

6. Kortikosteroid diberikan secara intravena selama 4 hari per­tama (Oradexon 4 x 2 ampul sehari), kemudian dosis dapat di­turunkan secara oral bila penderita sudah di bolehkan makan sampai sclama 3 minggu dan saat penderita masuk rumah sakit.

7. Sebaiknya diberikan antibiotika untuk mencegah infeksi sekun­der yang dapat mempengaruhi luka; dimulai dengan intravena, selanjutnya dapat per oral.

8. Usahakan hari itu juga menghubungi Bagian THT untuk pe­meriksaan laringoskopi indirekta/ esofagoskopi.

9. Bila lesi ringan, diet oral dapat segera dimulai, dan pemberian steroid/ antibiotika dapat dipercepat Bila lesi cukup luas, masukkan NG tube dengan tuntunan esofagoskop ke dalam lam­bung, selanjutnya pemberian makanan dilakukan lewat NG tube. Pada lesi yang sangat luas/sirkuler, pemasangan NG tube sebaiknya dihindari, penderita dipuasakan, dan semua obat/ makanan diberikan secara parenteral, sampai terjadi penyembuhan luka pada saluran makanan.

10. Pada keadaan yang terakhir ini ada baiknya untuk menghubungi Bagian Bedah untuk membicarakan kemungkinan pe­masangan sonde lewat gastrostomi.


e. Keracunan antiseptik luar (Lysol, Creolin dll )

1. pada konsentrasi yang pekat dapat dianggap bahan korosif rui­gan, karena itu penderita disuruh minum air hangat sebanyak mungkin untuk mengencerkan bahan.

2. bila kesadaran pendenta agak menurun, KL dilakukan dengan NG tube ukuran kecil.

3. selanjutnya berikan antasida untuk mencegah timbulnya ulkus di kemudian hari.



f. Keracunan isoniazide (INH)

1. Vitamin B6 intravena, 1500 mg sehari selama 5 hari

2. Diazepam 10 mg intravena bila timbul konvulsi

3. Dapat dicoba FDN dalam 12 jam


0 Response to "Cara Mengatasi Keracunan Obat"

Post a Comment