Perspektif Jurnalistik

Perspektif Jurnalistik. Dalam perspektif ini komunikasi internasional dilakukan melalui saluran media massa cetak dan elektronik. Arus informasi yang bebas dan terbuka dari negara-negara maju yang datang melalui media tersebut saat ini dinilai lebih merugikan negara-negara berkembang. Arus semacam ini tidak mencerminkan adanya mutual respect antara kedua kubu negara tersebut. Komunikasi internasional dengan penyebaran informasi satu arah menunjukkan betapa negara maju telah mendominasi komunikasi internasional. Komunikasi semacam ini telah dijadikan pula oleh negara-negara maju sebagai alat kontrol terhadap kekuatan sosial yang dikendalikan oleh kekuatan politik dam percaturan politik internasional.

Karena negara maju memiliki fasilitas komunikasi yang lengkap dan canggih serta sistem yang terus dikembangkan secara mantap, terpaan informasi dari mereka menjadi demikian kuat. Itulah sebabnya, sebagian negara berkembang yang masih jauh tertinggal, mereka menghendaki pengaturan seperti yang disebut ‘Tata Informasi Baru (New Information Order)’. Disini peran negara stimulaltor yang netral sangat diperlukan dan bahkan menjadi begitu penting karena ia bertibdak sebagai gatekeeper yang mengontrol arus komunikasi yang sering berisi gagasan-gagasan baru.

Negara-negara maju berpendapat bahwa kebebasan informasi merupakan upaya meningkatkan kesejahteraan internasional. Namun, negara-negara berkembang menganggap hal itu sebagai upaya mempengaruhi proses penerapan kebijakan intranegara, jika tidak merupakan suatu pelanggaran kedaulatan. Inilah yang ditakuti oleh negara-negara berkembang dan jika mereka tidak mampu membendung arus informasi dari luar seperti itu, maka tidak mustahil akan timbul kekuatan untuk merebut kekuasaan atau melahirkan gangguan atau ketidakstabilan.


Lebih lanjut dan mendalam tentang bagian ini akan disampaikan media-media yang digunakan dalam komunikasi internasional. Termasuk teori dasar komunikasi massa yang ada dan digunakan di dunia internasional sekarang ini di bab dan pertemuan selanjutnya.

Perspektif Propaganda

Dalam perspektif ini kegiatan-kegiatan propaganda dengan tujuan-tujuan untuk mengubah kebijakan dan kepentingan suatu negara atau memperlemah posisi negara lawan digunakan. Bahkan dengan propaganda di komunikasi internasional lebih ditujukan untuk menanamkam gagasan ke dalam benak masyarakat negara lain dan dipacu demikian kuat agar mempengaruhi pemikiran, perasaan serta tindakan. Tujuan ini mencakup perolehan dan penguatan atau perluasan dukungan rakyat dan negara sahabat, mempertajam atau mengubah sikap dan cara pandang terhadap suatu gagasan atau suatu peristiwa atau kebijakan luar negeri tertentu, pelemahan atau peruntuhan pemerintah negara asing atau penggagalan kebijakan serta program nasional negara tidak bersahabat, serta netralisasi atau penghancuran propaganda tidak bersahabat dari negara atau kelompok lain.


Selama ini, propaganda memang diakui merupakan instrumen yang paling ampuh untuk memberikan pengaruh. Apabila terdapat kesatuan psikologis dalam komunikasi internasional, satu opini publik dalam suatu negara yang cocok dengan opini publik negara lain bisa saja berintegrasi menjadi opini internasional dan selanjutnya akanmerupakan polar yang terpisahkan oleh perbedaan kepentingan yang berkaitan dengan latar belakang ideologi, sejarah, sosial dan faktor-faktor lain dari suatu negara.

Lebih jauh tentang propaganda akan diuraikan singkat pemahaman akan propaganda. Dari sejarah propganda sebenarnya tidaklah negatif karena istilah ini pertama kali digunakan oleh Paus Gregorius XV tahun 1622 dan atau oleh Paus Urbanus VIII tahum 1633 untuk menanamkan suatu badan atau organisasipenyebaran agama Katolik. Untuk istilah politik mula pertama digunakan oleh Napoleon Bonaparte dan Mrs. Harriet Beecher Stove adalah orang pertama yang menggunakan istilah ini di bidang sosial.






Lenin mengatakan bahwa propaganda adalah mengemukakan banyak pikiran yang menrangkan masalah khusus. Leonard W. Doob berpendapat bahwa propaganda is a systematic attempt by a interested individual individual (or individuals) to control the attitudes of group of individuals through the use of suggestion and consequently their actions. Sebanrnya banyak pengertian tentang propaganda minimal kita memahami bahwa propaganda adalah suatu spesialisasi komunikasi yang bertujuan untuk menanamkan pandangan, sentimen dan atau penilaian atas dasar sugesti.






Tujuan propaganda sendiri menurut Herbert Blumer adalah hendak menciptakan keyakinan dan mendorong diadakannya suatu aksi atas dasar keyakinan itu. Sementara dalam operasinya ada beberapa syarat :






Ø Dalam rangka menanamkan pandangan atau sikap perlu upaya untuk menarik perhatian






Ø Untuk menarik perhatian haruslah diberi ‘kerangka yang baik dan mengikat’






Ø Harus ada pengulangan secara terus menerus

Ø Memberikan desakan-desakan yang kukuh

Selanjutnya adanya objek propaganda yang berbeda yang saling bertentangan atau secara teknis akan menimbulkan adanya ‘propaganda dan kontra propaganda’, karena itu maka setiap propagand selalu ditawarkan sebagai suatu grup propaganda yang ditujukan kepada mass audience. Untuk itu, setiap propaganda selalu ditujukan kepada out-group dan tidak in-group. Seperti contoh saat perang, Donovan Pedelty menyebutkan peranan utama propganda dalam perang bukannya hendak meyakinkan lawan bahwa mereka itu salah, akan tetapi untuk mempertahankan daya tempur mereka sendiri.

Untuk teknik Propaganda menurut George L. Bird dan Frederic E. Merwin adalah :
1. Name Calling yaitu memberikan nama jelek kepada pihak lain sehingga kita menjadi benci dan menolaknya.
2. Glittering Generalities yaitu mengunakan kata-kata muluk (virtue word) bagi sesuatu yang sdang dipropagandakan. Disini, kita dirangsang agar membenarkan atau menrima saja apa yang dipropgandakan tanpa menolak benar salahnya. Berbeda dengan name calling.

3. Transfer yaitu menggunakan prestise dari pada sesuatu yang kita hormati dan autoritas daripada sangsi-sangsi.
4. Testimonial untuk merangsang komunikan agar menerima seperti dunia bisnis dan periklanan.
5. Plain Folks seperti testimonial tapi untuk kalangan politik, para pemimpin dsb.

6. Card Stacking yaitu mengunakan emosi para komunikannya untuk menutupi hal-hal yang sebenarnya dan menungkapkan bukti-bukti palsu dsb.

7. Band Wagon teknik ini merangsang komunikan untuk mengikuti setiap orang yang telah terkena propaganda.


Four Theories of The Press

Di tahun 1956 Fred Siebert, Theodore Peterson dan Wilbur Schramm mencoba menggambarkan konflik antara negara dengan pers atau dalam ungkapan mereka ‘sistem pengawasan sosial yang mendasari penyesuaian hubungan antara individu dan lembaga’. Hasilnya adalah -yang menjadi inti teori ini- sebenarnya hanya dua teori yakni otoritarian dan libertarian–lah yang menjadi kunci hubungan pers dengan negara. Sementara konsep lainnya yaitu Soviet Communist dan Social Responsibility adalah merupakan pengembangan dan modifikasi dari dua konsep utama.

Secara sederhana otoritarian adalah bersumber dari kekuasaan absolut monarki dengan tujuan untuk mendukung negara dan kepemimpinannya. Masalah ijin, sensor ada di bawah kekuasan otokratis dan hukum. Disini tidak dibenarkan mengkritik atau mengancam struktur kekuasaan. Biasanya dimiliki oleh penguasa, partai atayu swasta. Dimunculkan oleh Hobbes, Hegel dan Machiavelli dan direpresentasikan oleh Iran, Paraguai, Nigeria.

Untuk Libertarian muncul oleh Locke, Milton, Mill, Adam Smith dari pemikiran untuk mencerhkan dan hak-hak alami. Dengan tujuan utama adalah membantu menemukan kebenaran, menginformasikan, menafsirkan dan menghibur. Perbedaan dengan otoritarian adalah menentukan sendiri editorial dan pemisahan antara negara dan pers. Media dikontrol oleh pemilik di dalam pasar bebas ide-ide dan oleh pengadilan, disini tidak ada pelarangan sebelum atau sesudah penerbitan. Untuk pemilik, kebanyakan pemilik adalah swasta.

Sedang komunis Soviet bersumber dari ajaran Marx dan Lenin untuk mendukung sistem Marxist mengabdi pada rakyat. Secara teoritis, rakyat bisa memiliki pers dan memanfaatkannya tapi dalam kenyataannya tidak. Karena media tidak bisa mengkritik tujuan partai maka kontrol oleh aparat pemerintah lewat tangan partai komunis selalu diterapkan. Dikembangkan oleh tokoh-tokoh komunis seperti Marx, Lenin. Stalin, Mao, Castro dan Gorbachov. Contoh kini adalah Uni soviet, RRC, Kuba.

Untuk teori tanggung jawab sosial merupakan manifestasi tentang kebebasan pers dan kritik atas pers libertarian, dengan tujuan untuk menginformasikan dan mendidik, membantu memajukan masyarakat. Pentingnya teori ini adalah lebih mengutamakan tanggung jawab sosialnya dibanding kebebasan pers. Adapun kontrol dilakukan oleh masyarakat dan tindakan konsumen. Etika lain tidak dibenarkan menerbitkan informasi yang membahayakan secara sosial atau menyerang hak-hak pribadi. Biasanya dimiliki oleh swasta tapi ada kemungkinan adanya campur tangan penerintah untuk menjamin kepentingan umum. Sayangnya saat ini belum ada dalam contoh nyata.

Secara umum Empat teori pers ini sangat berpengaruh. Bahkan John Merril mengatakan ‘hampir setiap artikel dan buku yang berkaitan dengan dasar filosofis jurnalistik, menyingung, mengomentari atau mengambil kutipannya.

Bagaimanapun teori ini menjadi pijakan yang kuat, ternyata tetap diperlukan revisi. Beberapa pakar menyatakan teori ini tidak bisa lagi digunakan untuk menguraikan berbagai sistem teori pers yang revolusioner dan sudah berkembang sedemikian jauh. Seperti contoh Ralph Lowenstein pada tahun 1971 yang mengusulkan revisi karena empat teori pers ini sudah diangap membeku dan tidak mampu diterapkan untuk seluruh sistem pers.

Juga John Merril memandang model Lowenstein ‘lebih canggih dan realistik ketimbang model Siebert dkk. Namun secara mendasar konsep social libertarian Lowenstein memiliki cacat secara logis sangat kontradiktif. Menurutnya filsafat tidak bisa menjadi libertarian Yaitu kebebasan maupun diarahkan yaitu dikontrol. Kelemahan berikut adalah sama dengan Empat teori pers yang mengetengahkan spektrum dengan ujung satu otoritarian sedang ujung lain adalah libertarian. Merril mengusulkan ditempatkan suatu political-press circle -suatu model yang menempatkan libertarian di ujung atas dan otoritarianisme di ujung bawah lingkaran tertutup. Dengan skema ini empat teori dikurangi menjadi dua.


Kemudian William Hachten dengan penggabungan libertariannisme dan tanggung jawab sosial ke dalam konsep Barat, tapi mempertahankan ideologi otoritarian dan komunis, dan menambah dua teori baru revolusioner dan pembangunan (developmental). Termasuk J. Harbert Altschull yang menolak Empat teori pers karena sarat nilai (value–laden). Dimana dipikirkan tipologi yang dimiliki dengan memilih ‘identifikasi ekonomi yang breubah’ sebagai dasarnya dengan rancangan politik dari Dunia Pertama atau dunia barat yang menjadi gerakan ‘pasar’, Dunia Kedua atau dunia timur menjadi gerakan Marxist, dan Dunia Ketiga atau dunia selatan menjadi gerakan advancing. Dia menguji tiga pergerakan lewat tiga perspektif yaitu tujuan jurnalistik, ertikel-ertikel tentang perjuangan pers, dan pandangan terhadap kebebasan pers.

Selain itu, ada dari Robert Picard, Sydney Head dengan penyiarannya yang merupakan bentuk lanjutan atau model alternatif yang merupakan suatu revisi dari teori dasar The Four Theory of Press.

0 Response to "Perspektif Jurnalistik "

Post a Comment